Jumat, 12 September 2008

Pembangunan Jalan Berbasis Kemandirian Masyarakat Pada Daerah Pertanian dan Sentra Produksi Usaha Kecil

30/04/2008

Jalan merupakan salah satu infrastruktur utama transportasi Indonesia, pembangunan jalan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Semakin tinggi akses daerah tersebut, maka semakin besar peluang dalam perkembangan ekonomi daerah tersebut. Mengenai kebutuhan jalan, Bank Dunia menyebutkan bahwa kebutuhan jalan di negara berkembang adalah 1.000 Km untuk setiap 1 juta orang (Buletin Bapekin,2004) sehingga dengan mengasumsikan penduduk Indonesia berjumlah 2 miliar (2.000 juta) maka Indonesia memerlukan sekitar 2.000.000 Km jalan. Sementara, menurut DR. Ir. A. Hermanto Dardak Dirjen Penataan Ruang Departemen PU dalam pidatonya pada tahun 2005 menyatakan bahwa baru terdapat 34.628 km jaringan jalan nasional dengan sekitar 19 % kondisinya tidak mantap atau baru terdapat sekitar 29.000 km yang layak pakai. Ketimpangan antara kebutuhan dengan ketersediaan jalan akan berpangaruh besar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, pertumbuhan jalan yang hanya terpusat pada daerah tertentu saja akan menimbulkan ketidakmerataan dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut penulis ketimpangan ini sebagian besar diakibatkan oleh proses pembangunan jalan yang sangat bertumpu pada pemerintah yang menyebabkan lambatnya proses pertumbuhan jalan di Indonesia. Menurut data Bapekin besaran dana yang dibutuhkan untuk jalan rata-rata mencapai 4% dari GDP, sedangkan di Indonesia sendiri sebelum krisis baru mencapai 3,8% dari GDP, namun setelah krisis hanya 1,2% dari GDP (Buletin Bapekin,2004).

Pada daerah pertanian dan sentra produksi usaha kecil, infrastuktur jalan yang baik akan sangat membantu proses pemasaran sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengusaha ataupun petani. Selain pemasaran, kemudahan dalam mengakses berbagai kebutuhan terkait usaha pertanian dan produksi dapat mengurangi ongkos produksi.

Pada dasarnya terdapat peluang untuk mengatasi masalah pendanaan. Bank memiliki potensi besar untuk menyelesaikan masalah ini karena menurut data dari Bank Indonesia (BI), posisi dana penghimpunan masyarakat per Mei 2004 senilai Rp 897,815 triliun, naik 2,6 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar Rp 875,281 triliun. Sementara pada tahun tersebut penyaluran dana konsumsi baru mencapai 8,3 triliyun dan pada sektor reksadana industri baru mencapai 100 triliun( www.atmajaya.com,2004). Data ini memberi gambaran tentang adanya dana masyarakat yang belum teroptimalkan di bank yang seharusnya dapat dioptimalkan oleh masyarakat untuk penyediaan infrastruktur jalan. Namun yang akan jadi pertanyaan adalah mekanisme seperti apa yang dapat menghubungkan potensi bank ini dengan kebutuhan masyarakat. Mekanisme yang dibuat harus mampu menjawab tantangan akan jaminan, lama pengembalian dan bunga, karena peruntukan peminjaman ini merupakan suatu kasus yang khusus.

Menjawab pertanyaan diatas, menurut penulis mekanisme yang dibuat harus tetap melibatkan pemerintah. Pemerintah dapat ditempat sebagai penjamin untuk pengembalian dana yang dipinjam. Posisi ini menempatkan pemerintah sebagai pembayar hutang jika pada waktu yang disepakati masyarakat tidak dapat membayar hutang tersebut. Dengan menempatkan pemerintah sebagai penjamin, kemudahan dalam meminjam uang akan dapat terjadi karena tingkat kepercayaan bank terhadap mayarakat akan meningkat. Selain sebagai penjamin, pembayaran utang dapat dilakukan dengan sistem pembagian. Artinya dana pembangunan di tanggung oleh masyarakat dan pemerintah. Selain berperan sebagai penjamin, pemerintah juga harus berperan dalam masalah keteknikan pembagunan jalan. Peran sebagai pemberi hak tender dan pengawasan harus tetap dilakukan pemerintah.

Mengenai bunga pinjaman, penulis lebih sepakat 0 % bunga, sementara biaya operasional peminjaman (seperti survey, notaris dll.) ditanggung oleh pemerintah. Jika mekanisme ini dirasa kurang menguntungkan pihak bank maka sistem yang dipakai adalah sistem bagi hasil dengan perjanjian awal sebagai investasi yaitu pembagian pendapatan yang diperoleh oleh para petani atau pengusaha setelah dibangunnya infrastruktur jalan yang dibagi sesuai kesepakatan bersama. Mekanisme ini diajukan karena jika mengunakan perjanjian pinjaman maka jumlah uang yang dikembalikan harus sama besar dengan yang dipinjam, jika perjanjiannya adalah investasi maka kedua pihak harus menanggung resiko bersama tidak ada yang boleh dirugikan. Dari kedua mekanisme diatas mekanisme kedua memiliki peluang keuntungan yang lebih besar di kedua pihak, karena adanya perbaikan prasarana jalan pasti akan menumbuhkan perekonomian atau usaha penduduk sehingga pendapatan penduduk pasti akan lebih besar distau sisi pihak bank akan memperoleh 2 peluang keuntungan yaitu keuntungan dari bagi hasil ditambah dengan peluang penghimpunan dana masyarakat yang makin besar (tabungan rakyat).

Penulis melihat mekanisme ini memiliki banyak keuntungan:

  1. Masyarakat

a. Dengan adanya mekanisme ini kemandirian serta kesatuan masyarakat akan terbangunTerpenuhinya kebutuhan akan prasarana jalan yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

b. Teroptimalkannya potensi masyarakat dalam hal penyediaan infrastuktur jalan.

c. Melalui sistem ini pula biaya penyediaan akan dapat ditekan

  1. Bank

a. Termanfaatkannya dana tak bergerak di bank

b. Keuntungan dari sistem bagi hasil

c. Peluang penghimpunan dana masyarakat yang lebih besar akibat meningkatnya kesejahteraan masyarakat setelah pembanguan jalan.

  1. Pemerintah

a. Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

b. Pengurangan beban penyediaan infrasturktur yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah.

Dari mekanisme yang ditawarkan memang harus diakui masih banyak pertanyaan yang mendasar yang belum terjawab seperti mampukah petani membayar pinjaman? atau bagaimana dengan kredit macet? Karena untuk membangun jaringan jalan membutuhkan biaya yang sangat mahal untuk pembangunan dan perawatan . Sehingga mungkin untuk penerapan awal, mekanisme ini dapat dibuat pada bangunan-bangunan berskala kecil yang sangat berguna bagi masyarakat petani maupun UKM seperti gudang beras, pusat bisnis atau infrastuktur lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani atau UKM.

Belajar dari Ustad Sayyid Sabiq Fiqh sunnah:

Dalam Buku Berjudul Islam Suatu Kekuatan Di masa Mendatang terbitan tahun 1963,Paul Eshmied(ilmuwan Jerman Menulis ) sendi-sendi kekuatan Timur-Islam terletak pada 3 hal:

1. Kekuatan Islam sebagai suatu agama baik dalm akidah,pedoman yang luur, persaudaraan antar bangsa , warna kulit dan kebudayaan

2. Memiliki sumber-sumber kekayaan yang besar yang membentang dari barat meliputi Samudra Atlantik dan Maroko sampai ke timur meliputi lautan teduh dan Indonesia

3. Suburnya keturunan dan angka kelahiran di masyarakat islam sehingga memperbesar kekuatan maha dahsyatBelajar dari Ustad Sayyid Sabiq Fiqh sunnah:

Dalam Buku Berjudul Islam Suatu Kekuatan Di masa Mendatang terbitan tahun 1963,Paul Eshmied(ilmuwan Jerman Menulis ) sendi-sendi kekuatan Timur-Islam terletak pada 3 hal:

1. Kekuatan Islam sebagai suatu agama baik dalm akidah,pedoman yang luur, persaudaraan antar bangsa , warna kulit dan kebudayaan

2. Memiliki sumber-sumber kekayaan yang besar yang membentang dari barat meliputi Samudra Atlantik dan Maroko sampai ke timur meliputi lautan teduh dan Indonesia

3. Suburnya keturunan dan angka kelahiran di masyarakat islam sehingga memperbesar kekuatan maha dahsyat

Kembali ke Barisan Para Pejuang Sejati

September 2006

Kaderisasi telah digoyang eksistensinya mulai dari dibatasi sampai akhirnya dilarang. Kaderisasi selain menciptakan efek yang luar biasa bagi yang dikader juga menyisakan sedikit harapan bagi manusia-manusia diluar pengkader dan yang dikader, yang sangat mengharapkan perubahan menjadi hidup yang lebih baik. Seperti sudah sangat lazim ketika proses kaderisasi berlangsung terdapat bagian terjun ke masyarakat baik hanya sekadar wawancara hingga kegiatan konkrit yang cukup menyentuh masyarakat. Pada bagian ini masyarakat merasa ada harapan-harapan baru dalam hidup mereka karena akhirnya ada yang peduli dan bertindak nyata atas beberapa masalah kecil yang mereka hadapi. Mereka merasa diperhatikan sehingga terlihat semangat menuju perubahan mengalir dari raut-raut wajah mereka dan mereka yakin hidup akan lebih baik. Hal ini didasarkan pada adanya calon-calon pemimpin bangsa mulai peduli pada mereka dan mereka sadar bahwa telah muncul pejuang-pejuang baru yang akan memperjuangkan kebenaran dan keadilan,walaupun terkadang hal tersebut hanya berlangsung sesaat karena hanya bagian dari proses yang terkadang hancur dalam genangan realitas. Realitas ini menyadarkan masyarakat bahwa yang sekarang mereka butuhkan adalah pejuang-pejuang sejati.

Kesadaran ini muncul karena adanya pejuang yang berjuang ‘hanya’ dengan kata-kata ‘langit’ atau sekedar menciptakan konsep-konsep semata tanpa tindak lanjut yang baik. Mereka sangat mendambakan pejuang sejati yang di lisan,hati,dan perbuatan mengikrarkan satu hal yaitu dia adalah seorang pejuang sejati. Pejuang yang hidup dengan satu keinginan menorehkan tinta-tinta emas dihati masyarakat bukan hanya di sejarah kehidupan bernegara. Pejuang yang mengusung dengan begitu jelasnya konsep-konsep perubahan dan secara langsung mencelupkan dirinya pada bagian proses perubahan yang nyata bukan sekedar konsep-konsep indah. Pejuang yang melakukan proses penyadaran pada masyarakat dengan serta merta melakukan penyadaran akan eksistensi diri. Dimulai dari yang kecil hingga yang sangat besar sekalipun. Mulai dari penghematan energi hingga penyadaran mengenai adanya kekuasaan besar yang membelenggu diri baik secara fisik maupun secara pemikiran. Yang pada akhirnya akan mengoyang pemikiran akan perlunya revolusi bangsa untuk melakukan perubahan tata dunia yang telah diatur sedemikian rupa oleh ‘raja-raja zalim’ yang hanya menguntungkan si raja. Pejuang yang mulai dari hal-hal kecil untuk menuju perubahan yang luar biasa. Pejuang-pejuang yang berada pada satu barisan mengusung perubahan dunia melalui perjuangan-perjuangan sejati.

-sang pejuang-

Hikmah Poligami

a. Poligami adalah rahmat Allah

b. Islam Adalah Agama kemanusiaan Yang luhur. Kaum muslimin wajib mengembangkan agamanya ke penjuru dunia. Untuk mencapai hal ini diperlukkan sebuah kekauatan Negara yang lengkap. Kekuatan yang lengkap ini salah satunya di topang oleh adnaya manusia-manusia yang cukup secara kauntitas maupun kualitas

c. Negara adalah pendukung agama, adanya peperangan mengakibatkan banyaknya penduduk yang meninggal. Sehingga harus ada system yang mengurusi para janda.

d. Adanya Negara yang memiliki populasi wanita lebih banyak dari pria.

Cerita Dr. Muhammad Yusuf Musa Berkata:

“Pada suatu saat di paris, aku ingat ketika kau bersama teman-temanku dari mesir pada tahun 1948. Kami di undang untuk menghadiri Konferensi Pemuda International di Jerman. Pokok persoalan yang harus dibahas adalah problem pertambahan kaum wanita di jerman setelah perang dunia dengan jumlah beberapa kali lipat dibandingkan dengan jumlah pria. Kami juga di minta supaya memberiakn solusi terbaik dalam masalah ini. Berbagai solusi versi barat telah di tawarkan, namun mereka tetap menolak. Aku bersama rekan dari mesir lalu mengajukan tawaran solusi bhwa satu-satunya cara untuk memecahkan masal ini adala dengan poligami.

Pendapat ini awalnya ditanggapi dengan sinis. Tetapi setelah melalui pembahasan yang objektif dan kajian yang mendalam, para peserta konferensi menyatakan bahwa inilah satu-satunya solusi yang tepat.

e. Kesanggupan laki-laki untuk berketurunan lebih besar daripada perempuan.

f. Terkadang ada istri yang mandul atau menderita sakit

g. Ada segolongan lak-laki yang mempunyai dorongan seks yang lebih besar.

Sumber : Fiqih Sunnah

Daerah Resapan Dalam Pendekatan Pro-Pembangunan

30/04/2008

Daerah resapan dalam polemik

Daerah resapan dapat didefinisikan sebagai daerah dengan struktur lapisan tanah yang memungkinkan air permukaan dapat meresap ke dalam lapisan yang lebih dalam. Peresapan air ini yang menyebabkan adanya suatu cekungan air bawah tanah yang berguna untuk cadangan air masa mendatang. Perlu diketahui bahwa air tanah yang dinikmati oleh manusia pada zaman ini sebagian besar berasal dari peresapan air pada masa yang lalu. Lapisan tanah dengan kandungan utama tufa dan kipas aluvial merupakan salah satu jenis lapisan tanah yang umumnya ditemukan pada daerah resapan. Pada Rencana Tata Ruang Wilayah, daerah ini biasanya dilindungi dari pembangunan infrastruktur untuk menjaga keberlangsungan air pada kota tersebut.

Namun perlu di sadari juga bahwa daerah ini merupakan daerah yang sangat rawan akan polemik, perbenturan kepentingan antara kebutuhan ruang untuk pemukiman dan pengembangan wilayah, dengan isu konservasi alam dan air seringkali terjadi. Pemenuhan kebutuhan air yang terus menanjak seiring pertumbuhan penduduk menuntut adanya perlindungan terhadap sumber daya air termasuk air tanah. Sebagai contoh kita lihat kasus sebagian wilayah Jawa Barat (Kab. Bandung, Kota Bandung, Cimahi, Sumedang). Menurut Ir. Ade Rustiaman, pada tahun 2010 keempat wilayah tersebut diperkirakan akan membutuhkan 1,98 milyar m3 setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Sementara itu potensi yang dimiliki baru mencapai angka 1,85 miliar kubik pertahun berarti akan ada defisit 0,13 miliar air pada tahun 2010. Bukti dari hal ini dapat dilihat dari semakin dalamnya muka air tanah diwilayah ini. Selain pertimbangan penyimpanan air tanah, upaya pencegahan banjir menjadi salah satu alasan kuat untuk melindungi wilayah resapan. Semakin berkurangnya wilayah resapan akan meningkatkan jumlah total air yang melimpah dipermukaan, sementara itu semakin besar total run off maka potensi terjadinya banjir akan semakin besar. Risiko banjir dan kekurangan air telah menjadi alasan klasik untuk tetap mempertahankan daerah resapan sama seperti aslinya.

Sementara itu, disisi lain kebutuhan perluasan serta pembangunan infrastuktur menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Pertumbuhan pendudukIndonesia yang lebih dari 1 % /tahun menuntut pemenuhan kebutuhan akan ruang dan infrasturktur. Sebagai contoh, Bank Dunia telah mendefinisikan untuk setiap 1 juta orang akan memerlukan 1000 km jalan. Dengan mengasumsikan pemenuhan kebutuhan jalan sebesar 20% setahun dari total kebutuhan, maka dibutuhkan panjang lahan sekitar 40 Km untuk memenuhi kebutuhan manusia akan jalan pada setiap tahunnya. Selain kebutuhan jalan, pencanangan 1000 rumah susunpada tahun 2009 turut menandakan adanya kebutuhan yang besar dari masyarakat akan ruang yang belum terpenuhi.

Melihat kedua fakta diatas, konservasi air dan pemenuhan kebutuhan ruang merupakan 2 hal yang tidak bisa saling dibenturkan, namun harus diselaraskan. Dalam proses penyelasaran ini, insiyur teknik sipil memiliki peran yang sangat signifikan yaitu memenuhi kebutuhan ruang manusia tanpa mengurangi fungsi peresapan air pada wilayah tersebut.

Penyerapan Air Terintegrasi

Dasar dari konsep ini adalah melakukan penyerapan air sebanyak-banyaknya dari sistem terkecil hingga sistem terbesar pada wilayah tangkapan air hujan. Melalui sistem ini setiap elemen masyarakat bertanggung jawab untuk menyerapkan air ke dalam tanah. Sistem ini dilakukan untuk mengalihkan pendekatan fungsi penyerapan dari pendekatan luas lahan yang hanya tertumpu pada daerah resapan menjadi pendekatan teknis untuk meningkatkan jumlah penyerapan pada semua wilayah. Kata integrasi menunujukan adanya sebuah kesinambungan dalam proses penyerapan ini, mulai dari elemen terkecil keluarga hingga elemen masyrakat.

1. Rumah

a. Sumur Resapan

Sumur Resapan (infiltration Well) adalah sumur atau lubang pada permukaan tanah yang dibuat untuk menampung air hujan/aliran permukaan agar dapat meresap ke dalam tanah. Sumur resapan ini memiliki luas 1,4 m x 1,4 m x 5 m yang diletakkan dalam wilayah rumah. Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan sumur resapan air antara lain : (1) mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi, (2) mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah, (3) mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai, (4) mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan (5) mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah (Dephut, 1995).

b. Lubang Resapan Biopori

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 - 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. Bila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah . Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang.. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm 2(Tim Biopori IPB). Melalui metode ini kita dapat menganti luas lahan penyerapan dengan sejumlah lubang biopori resapan dengan memperhitungkan luas bidang resapan yang mampu diganti oleh Lubang Biopori Resapan.

c. Desain Perkerasan Serap Air

Peningkatan jumlah resapan air di rumah dapat dilakukan dengan mendesain perkerasan yang mampu melewatkan air. Perkerasan yang kedap air mulai harus ditinggalkan, pengunaan Paving Block berlubang menjadi salah satu alternatif dalam perancangan perkerasan serap air ini.

2. Komplek perumahan/RT/RW

Pada segmen wilayah perumahan, maka pendekatan teknis yang harus dilakukan adalah membangun situ/penampungan air. Situ ini berperan untuk menampung dan meresapkan air hujan yang mengalir pada wilayah perumahaan . Situ ini juga harus didukung dengan sistem drainase air hujan yang terintegrasi , sehingga semua aliran air yang ada di daerah tersebut dapat mengalir ke penampungan dan tidak mengalir kesungai.

3. Kota

Pada cakupan wilayah kota pembuatan tampungan air kota menjadi sebuah keharusan, selain penjagaan aliran sungai dan penyediaan lahan hijau pada wilayah kota.

Ketiga solusi diatas pada dasarnya bukan hal yang baru dalam proses konservasi air tanah. Negara-negara maju telah sukses dalam menerapkan konsep situ kota atau wilayah, sementara itu konsep biopori sedang marak diadobsi oleh berbagai pihak karena kemudahan dan kepraktisannya dalam pembuatan. Bahkan konsep tentang sumur resapan pada daerah tertetu telah menjadi peraturan daerah. Namun beberapa solusi diatas harus diakui memiliki banyak kelememahan didalam penerapannya. Peraturan Daerah(PerDa) terkait Sumur resapan lebih banyak menjadi syarat diatas kertas tanpa penerapan yang nyata. Melihat hal ini, selain pendekatan sisi teknis pendekatan sisi kemasyarakatan menjadi suatu hal yang sangat penting dan berharga. Sistem pada dasarnya sangat tergantung kepada masyarakat, sehingga manakala elemen masyrakat ini tidak berjalan maka isu penyelarasan antara kebutuhan ruang dan air menjadi hal bersifat wacana semata.

Daerah Resapan Dalam Pendekatan Pro Pembangunan

Maksud besar dari tulisan ini adalah untuk membuka masalah tentang adanya 2 kebutuhan yang bepotensi saling menghilangkan yaitu kebutuhan ruang dan kebutuhan penyediaan air masa datang beserta pencegahan banjir. Namun manusia dan teknologi telah membuat 2 kebutuhan ini berpotensi untuk diseleraskan. Perluasan pembangunan pada daerah resapan telah memberikan sebuah konsekuensi untuk melakukan peningkatan penyerapan pada daerah tersebut dan sekitarnya melalui pendektan teknis. Kesadaran masyarakat serta sistem yang membangun kesadaran ini menjadi kunci utama pada pembangunan pada daerah resapan.

Referensi:

DARDAK , A.HERMANTO.2005.UPAYA PEMERINTAH MEMENUHI KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR JALAN..Jakarta.

Pedoman Umum Pembangunan Sumur Resapan Dalam Rangka Antisipasi Kekeringan tahun

2007

SAMBUTAN MENTERI PEKERJAAN UMUM”SOSIALISASI PROGRAM KOMPENSASI PENGURANGAN SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK (PKPS BBM) BIDANG INFRASTRUKTUR PERDESAAN”

15 Maret 2005 di Jakarta

Mulyana, Rachmat. SOLUSI MENGATASI BANJIR DAN MENURUNNYA PERMUKAAN AIR TANAH PADA KAWASAN PERUMAHAN . @ tumoutou.net/702_07134/rachmat_mulyana.htm

www.biopori.com

www.westjavawater.blogspot.com

Bersiagalah Dengan ‘Kompetisi’ di Asrama

04/01/08

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

(Al Mulk:2)

Beberapa hari ini Allah memberikan kesempatan yang sangat berharga pada saya untuk merenungkan kembali ayat-ayatnya, yang mungkin selama ini hanya ‘terbaca’ dan terserap sampai kerongkongan saja atau mungkin hanya ‘berisi’ lantunan-lantunan ayat yang di kejar-kejar deadline evaluasi mingguan. Ya Allah menyampaikan saya pada ayat ini. Sebuah ayat yang memberi inspirasi. “supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” Beberapa kata dalam ayat ini membuka mata saya tentang sebuah ‘kompetisi’ atau lebih tepatnya perlombaan yang terjadi demikian sengitnya diasrama kita tercinta. Pada detik yang sama ketika saya menulis atau sahabat membaca tulisan ini saya yakin di sudut asrama sana ada sahabat-sahabat kita yang sedang berkutat dengan buku-bukunya, atau sedang membincang ayat-ayat Allah atau sedang melakukan berbagai persiapan lainnya untuk menyambut kompetisi mendesain sesuatu diujung kehidupan dan kehidupan setelah kematian. Coba perhatikan teman sekamar kita, perhatikan dengan seksama kebaikan apa saja yang telah dia lakukan,coba lihat dan amati berapa lama ia tidur, coba teliti bagaimana cerdasnya ia bekerja, coba amati semua ini dan yakinkanlah pada diri bahwa semua sedang berkompetisi menghadapi ujian Allah dengan amal-amal terbaik, semua sedang mempersiapkan diri untuk bertemu dengan yang Maha Indah. Coba amati ketika kita tidur, apakah sahabat kita sedang lelap tertidur?,ataukah malah sedang khusuk menyiapkan keilmuannya lalu, ketika kita bangun apakah beliau sedang tidur atau rupanya beliau sedang asyiknya bersama Allah. Coba amati…coba amati semua ini, ada begitu banyak motivasi diarea ini, ada banyak motivasi perbaikan diri yang terbingkai dalam aura kompetisi dihadapan Allah. Semua ingin menghadap Allah dengan amal-amal terbaik. Setelah itu mari kita hitung seberapa jauh kita tertinggal dalam perlombaan ini. Perlombaan yang berhadiah surga dengan bidadari bermata jelita yang tidak pernah disentuh sebelumnya, atau hadiah tertinggi adalah melihat yang Maha Indah lagi menciptakan keindahan. Mari kita buka mata,telinga dan hati lebar-lebar, bahwa diasrama atau diluar sana banyak sekali manusia sedang mengukir tinta emas dengan prestasi-prestasi yang luar biasa yang hanya berharap pada satu tujuan yaitu bertemu dengannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

(Al hasyr :18)

Senin, 18 Agustus 2008

Apa yang terjadi dengan negeri ini??(1)

Alhamdulillah beberapa bulan ini Allah berikan kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat di luar sana. Allah tunjukkan fenomena yang begitu indah di luar tembok tinggi kampus ITB. Allah tunjukkan dengan jelas apa yang terjadi dinegeri ini. berjalan pada pagii hari dikwasan elit bintaro, tiba-tiba tersadar akan sebuah fenomena bahwa Polusi udara seperti akan menjadi bencana besar bagi anak-negeri ini. kabut yang begitu pekat menyeruak di dasar langit-langit biru jakarta. sebuah pertanyaan besar terlontar, apa yang dilakukan oleh manusia negeri ini?? kabut hitam pekat dapat dilihat dengn mata telanjang. Tiba-tiba terpikir oleh nasib anak negeri ini yang harus berjuang melindungi diri dari bahya Polusi. aku berpikir apa yang akan terjadi pada anak negeri, jika mereka setiap harinya harus berhadapan dengan kabut tebal asap polusi. siapa yang dapat melindungi mereka?? apa yang terjadi dengan negeri ini

Berjalan beberapa kilometer aku tersadar kembali akan sebuah fenomena kerusakan lingkungan bangsa ini. Sungai yang biasanya berwarna putih bening telah berubah menjadi Hitam pekat penuh sampah. apa yang terjadi di negeri ini??apa sungai negeri ini menang di ciptakan untuk tempat menghamburkan sampah-sampah negeri? dalam hati aku berdoa mudah-mudahn Allah turunkan pahlawan lingkungan negeri ini yang berjuang dengan tulus membersihkan kerusakkan lingkungan negeri ini.
aku berdoa mudah-mudahan Allah sentuh hati teman-temanku di TL atau Biologi untuk bergerak lebih cepat dan keras untuk menjadi pelopor gerakan penyelamatan negeri
meski pertanyaan ini tetap tersisa
apa yang terjadi di negeri ini